Subhan165's Blog

Lautan Tanpa Tepi

Indahnya sebuah Harapan Oktober 18, 2009

Filed under: Curah Perasaan — subhan165 @ 5:41 am

“Masihkah ada harapan untuk-ku”…

Pernyataan yang banyak orang katakan dalam kehidupan sehari hari, harapan adalah sesuatu yang indah dan menggairahkan, dengannya menjadi termotivasi dan muncul semangat hidup yang begitu memunak.

Apa itu harapan?..

Harapan ialah keinginan yang ingin dicapai oleh hati kita dan harapan adalah sesuatu yang membuat kita biasanya bertahan didalam rintangan,.

beruntunglah seorang yang masih mempunyai harapan, harapan mendapatkan jabatan, harta, wanita dan kedudukan. dan berbahagilah orang yang mempunyai harapan, ia akan abadi bersama jiwa yang terus berkobar dan menyala dalam menggapainya.

maka, sangat tidak beruntung dan frustasi orang yang tidak mempunyai harapan, dengan harapan kita bisa lebih semangat dan hidup, muka nya berseri, mata nya begitu lembut dan damai, perasaannya bergejolak penuh dengan kesejukan..

itulah harapan, berharap mendapat sesuatu maka disitulah turun sebuah kebahagiaan pada perasaannya, walau kenyataan ketika ia dapatkan dari apa yang ia harapkan tidak membuat lebih bahagia. setidaknya ia telah lebih bahagia dulu sebelumnya.

Harapan akan selalu indah dan abadi, ketika kita lebih jauh berharap hanya kepada dzat yang mempunyai harapan itu sendiri. Dia lah  Dzat segalanya yang menjadi harapan insan sejati.

itulah harapan sang maestro ketuhanan yang selalu berharap kepada kasih sayang Tuhan-Nya

 

Sekolah Sufi Oktober 13, 2009

Filed under: Ide Kreatif — subhan165 @ 3:07 pm

“Proses memanusia kan manusia”

demikian ungkapan yang sering di dendangkan oleh dosen ku, sebut saja Prof. Ahmad Tafsir ketika mendefiniskan arti pendidikan.

Pendidikan sangat urgen bagi setiap individu sebagai bentuk kepatuhan daripada perintah Sang Nabi, yakni bahwa menuntut ilmu  wajib semenjak ayunan sampai ke liang lahat.

Jalur pendidikan dapat di tempuh dengan dua jalan, sekolah dan universitas sebagai proses prosedur pendidikan formal, dan dengan nama jalur non formal  seperti kursus, diklat, seminar dan yang sebangsanya.

Permaslahan nya saat ini adalah bagaimana cara mencari lembaga formal maupun non formal yang dapat mencetak proses memanusiakan manusia, yang berarti menjadi manusia jadi, bukan jadi manusia yang bisa nya hanya makan, tidur dan kawin. kalau demikian adanya  maka apa beda nya dengan binatang.

Jujur saja lembaga pendidikan saat ini belum bisa menjadikan harapan tersebut diatas, menjadikan lulusan yang baik secara akademik dan emosi yang mandiri, apalagi mempunyai jiwa terpuji dan lebih jauh menjadi manusia seutuhnya. justeru  lulusan yang ada masih banyak dipertanyakan??.

Di sadari saat ini, banyak manusia yang tidak manusiawi sebagai bukti dan tanda bahwa sebuah lulusan yang ada masih belum berhasil. kadang  secara intelektual lemah, emosional rentan, dan spiritual mengkhawatirkan.

Kalau demikian, lembaga pendidikan yang seperti apakah yang dapat memanusia kan manusia…??

Tak usah ragu, jawabanya yakni lembaga pendidikan yang  berbasis sufi, sebagai solusi pendidikan masa depan. yang dapat mendidik tidak hanya intelektual semata tetapi secara ruhani mendapatkan bimbingan dan petunjuk ke arah spiritualitas tinggi bersama Tuhannya.

 

Resiko…

Filed under: Curah Perasaan — subhan165 @ 11:59 am

Hidup sebagai proses pengaruh mempengaruhi, ini berlaku di berbagai generasi peradaban manusia. ketika seseorang mempengaruhi berarti ada orang yang di pengaruhi, ketika orang di pengaruhi maka ada orang yang mempengaruhi.

demikian menjadi pilihan, dua pilihan hidup yang harus dipilih oleh setiap orang. mau menjadi manusia yang mempengaruhi atau manusia yang di pengaruhi.

dua-dua nya mempunyai konsekwensi yang harus di dapatkan. sama seperti menjadi orang jahat atau orang baik dua duanya mempunyai sebuah sebuah resiko. menjadi orang baik maka resiko nya kita di ejek orang, lebih jauh menjadi musuh syethan. ketika menjadi orang jahat resiko nya di cari polisi, dan menjadi bala pasukan iblis.

jadi, hidup adalah pilihan, kapan anda memilih untuk menjadi dari ke-dua nya, ya itupun pilihan juga kapan masa yang tepat anda menentukan waktu-nya untuk memilih..

 

Banyak Tau maka Makin Pikun Oktober 11, 2009

Filed under: Ide Kreatif,Uncategorized — subhan165 @ 4:16 am

Setiap orang menginginkan perkembangan kompetensi yang terus meningkat, sehingga ia berusaha untuk meningkatkan kompetensinya. secara intelektual di isi otak nya dengan berbagai macan pengetahuan, wawasan, ilmu dan informasi.

secara formal melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, mulai dari s1 sampai melanjutkan pasca sarjana. tidak puas maka mengikuti pelatihan pelatihan. dan kita tau sebuah teori pernah terungkap oleh pakar kependudukan, (saya lupa, tapi ingat) bahwa makin banyak orang dalam satu tempat atau daerah, maka makin cerdas dan pinter manusia. walaupun ada yang menentang teori ini, yang mengatakan bahwa makin banyak orang (penduduk) maka tingkat kemiskinan makin merajalela.

tetapi yang jelas, ketika ditanya seorang manusia maukah pinter? pasti jawab mau !. mau kah Pikun.. pasti jawan Gak lah !!

permasalahannya adalah sebuah research yang pernah di lakukan, (duh.. saya lupa lagi nama-nya siapa darimana… yang jelas saya dengar dari Ustadz Wahfiudin–yang sering di TV swasta) bahwa orang yang makin pintar (jenjang pendidikan tinggi) maka tingkat kepikunan makin tinggi pula

nah..

tapi, ustadz wahfi tidak hanya menakut nakuti saja, atau hanya melempar statment tersebut yang membuat gempar dunia para ilmuwan dan pemikir. ia lanjutkan bahwa kepikunan tidak akan terjadi bagi para pemikir kecuali bagi mereka yang melakukan ritual Dzikrulloh, dengan keseimbangan fikir dan dzikir. maka cerdas, pinter dan tidak pikun.

jadi, bagi anda yang ilmuwan cepat cepatlah belajar dzikir untuk penyeimbangnya, kalau tidak mau menjadi ilmuwan yang pikun..

nau’dubillah..

 

Sufi itu Indah Mei 14, 2009

Filed under: Ide Kreatif — subhan165 @ 10:23 pm

Dengan sikap emosional dan gerah, Parto menentang beberapa buku yang menggugat dunia Tasawuf. Sudah bisa ditebak buku itu isinya pasti menghujat, menyesatkan dan menyampahkan tasawuf. “Ini bagaimana kawan. Kita dihabisi dengan penuh kehinaan. Apa yang harus kita lakukan. Apa kita bakar buku-buku ini?” Kawannya, Sugih namanya,

yang diajak bicara tadi melihat satu persatu buku itu sambil senyum-senyum. “Gih kamu kok malah tertawa-tawa seperti itu. Ini banyak orang bisa sesat membaca buku ini, dan mereka bisa anti terhadap ajaran tasawuf.” “Ngapain kamu gerah To, lha wong zamannya Ibnu Sraby, zamannya Ibnu Athaillah saja, sudah dihujat oleh Ibnu Taymiyah yang begitu hebat. Tapi toh tak bergeming. Sedangkan buku-buku ini yang menulis klas kambing saja, penulis pinggir jalan, seperti penjaja kacang goreng saja…” “

Tapi ini kan ada juga penulis dari Syeikh Saudi?” “Apalagi. Kan semakin jelas.” “Jelas apanya mereka syeikh dan Ulama…” “Nah semakin jelas pula, dan semakin gembira kita…” “Saya nggak mudeng Gih, kenapa kamu begitu….?” “Lha iya. Alhamdulilllah tasawuf digugat. Itu justru akan membesarkan pohon Sufi kita, menjadi pupuk bagi kagungan dan kerindangan ajaran Nabi yang paling inti…” “Kamu ini malah bikin aku pusing…” “Pohon itu besar karena pupuknya, rawatannya. Lebih baik kita pakai pupuk kandang anti pestisida. Kotoran-kotoran sapi itu lho…masak kamu nggak ngerti…” “Aku nggak ngerti Gih…”

“Anggap saja mereka itu, ucapan mereka, ulasan mereka tu, kotoran yang menjadi pupuk bagi kita. Jangan dibuang. Biarkan saja. Lha wong para Nabi dan para wali dulu musuhnya orang-orang munafik, orang-orang zalim, orang-orang fasiq, nah, kIta belajar dan bercermin saja di sana. Nggak usah pusing-pusing lah, malah alhamdulillah…” Parto hanya geleng kepala sambil menghela nafas panjangnya. “Jadi nggak perlu di counter Gih?” “Di counter sambil guyon, dan ditunggu sambil tidur saja…” —(ooo)—

sumber : Sufi News

 

Tasawuf

Filed under: Ide Kreatif — subhan165 @ 10:08 pm

Istilah “tasawuf”(sufism), yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad, dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha, wau dan fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. Ada yang berpendapat, kata itu berasal dari shafa yang berarti kesucian. Menurut pendapat lain kata itu berasal dari kata kerja bahasa Arab safwe yang berarti orang-orang yang terpilih. Makna ini sering dikutip dalam literatur sufi. Sebagian berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata shafwe yang berarti baris atau deret, yang menunjukkan kaum Muslim awal yang berdiri di baris pertama dalam salat atau dalam perang suci. Sebagian lainnya lagi berpendapat bahwa kata itu berasal dari shuffa, ini serambi rendah terbuat dari tanah liat dan sedikit nyembul di atas tanah di luar Mesjid Nabi di Madinah, tempat orang-orang miskin berhati baik yang mengikuti beliau sering duduk-duduk. Ada pula yang menganggap bahwa kata tasawuf berasal dari shuf yang berarti bulu domba, yang me- nunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada pengetahuan batin kurang mempedulikan penampilan lahiriahnya dan sering memakai jubah sederhana yang terbuat dari bulu domba sepanjang tahun.

Apa pun asalnya, istilah tasawuf berarti orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin, orang-orang yang tertarik untuk menemukan suatu jalan atau praktik ke arah kesadaran dan pencerahan batin.

Penting diperhatikan bahwa istilah ini hampir tak pernah digunakan pada dua abad pertama Hijriah. Banyak pengritik sufi, atau musuh-musuh mereka, mengingatkan kita bahwa istilah tersebut tak pernah terdengar di masa hidup Nabi Muhammad saw, atau orang sesudah beliau, atau yang hidup setelah mereka.
Namun, di abad kedua dan ketiga setelah kedatangan Islam (622), ada sebagian orang yang mulai menyebut dirinya sufi, atau menggunakan istilah serupa lainnya yang berhubungan dengan tasawuf, yang berarti bahwa mereka mengikuti jalan penyucian diri, penyucian “hati”, dan pembenahan kualitas watak dan perilaku mereka untuk mencapai maqam (kedudukan) orang-orang yang menyembah Allah seakan-akan mereka melihat Dia, dengan mengetahui bahwa sekalipun mereka tidak melihat Dia, Dia melihat mereka. Inilah makna istilah tasawuf sepanjang zaman dalam konteks Islam.


Saya kutipkan di bawah ini beberapa definisi dari syekh besar sufi:
Imam Junaid dari Baghdad (m.910) mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah”. Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m.1258), syekh sufi besar dari Arika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan”. Syekh Ahmad Zorruq (m.1494) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut:
Ilmu yang dengannya Anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan Anda tentang jalan Islam,khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal Anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata.

Ia menambahkan, “Fondasi tasawuf ialah pengetahuan tentang tauhid, dan setelah itu Anda memerlukan manisnya keyakinan dan kepastian; apabila tidak demikian maka Anda tidak akan dapat mengadakan penyembuhan ‘hati’.”
Menurut Syekh Ibn Ajiba (m.1809):
Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya Anda belajar bagaimana berperilaku supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan mempermanisnya dengan amal baik. Jalan tasawuf dimulai sebagai suatu ilmu, tengahnva adalah amal. dan akhirnva adalah karunia Ilahi.
Syekh as-Suyuthi berkata, “Sufi adalah orang yang bersiteguh dalam kesucian kepada Allah, dan berakhlak baik kepada makhluk”.

Dari banyak ucapan yang tercatat dan tulisan tentang tasawuf seperti ini, dapatlah disimpulkan bahwa basis tasawuf ialah penyucian “hati” dan penjagaannya dari setiap cedera, dan bahwa produk akhirya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara manusia dan Penciptanya. Jadi, sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah untuk menyucikan “hati”-nya dan menegakkan hubungannya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah pada jalan yang benar, sebagaimana dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad saw.
Dalam konteks Islam tradisional tasawuf berdasarkan pada kebaikan budi ( adab) yang akhirnya mengantarkan kepada kebaikan dan kesadaran universal. Ke baikan dimulai dari adab lahiriah, dan kaum sufi yang benar akan mempraktikkan pembersihan lahiriah serta tetap berada dalam batas-batas yang diizinkan Allah, la mulai dengan mengikuti hukum Islam, yakni dengan menegakkan hukum dan ketentuan-ketentuan Islam yang tepat, yang merupakan jalan ketaatan kepada Allah. Jadi, tasawuf dimulai dengan mendapatkan pe ngetahuan tentang amal-amal lahiriah untuk membangun, mengembangkan, dan menghidupkan keadaan batin yang sudah sadar.

Adalah keliru mengira bahwa seorang sufi dapat mencapai buah-buah tasawuf, yakni cahaya batin, kepastian dan pengetahuan tentang Allah (ma’rifah) tanpa memelihara kulit pelindung lahiriah yang berdasarkan pada ketaatan terhadap tuntutan hukum syariat. Perilaku lahiriah yang benar ini-perilaku–fisik–didasarkan pada doa dan pelaksanaan salat serta semua amal ibadah ritual yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad saw untuk mencapai kewaspadaan “hati”, bersama suasana hati dan keadaan yang menyertainya. Kemudian orang dapat majupada tangga penyucian dari niat rendahnya menuju cita-cita yang lebih tinggi, dari kesadaran akan ketamakan dan kebanggaan menuju kepuasan yang rendah hati (tawadu’) dan mulia. Pekerjaan batin harus diteruskan da1am situasi lahiriah yang terisi dan terpelihara baik.

Pandangan paling monumental tentang Tasawuf justru muncul dari Abul Qasim Al-Qusyairy an-Naisabury, seorang Ulama sufi abad ke 4 hijriyah. Al-Qusyairy sebenarnya lebih menyimpulkan dari seluruh pandangan Ulama Sufi sebelumnya, sekaligus menepis bahwa definisi Tasawuf atau Sufi muncul melalui akar-akar historis, akar bahasa, akar intelektual dan filsafat di luar dunia Islam. Walaupun tidak secara transparan Al-Qusyairy menyebutkan definisinya, tetapi dengan mengangkat sejumlah wacana para tokoh Sufi, menunjukkan betapa Sufi dan Tasawuf tidak bisa dikaitkan dengan sejumlah etimologi maupun sebuah tradisi yang nantinya kembali pada akar Sufi.

Dalam penyusunan buku Ar-Risalatul Qusyairiyah misalnya, ia menegaskan bahwa apa yang ditulis dalam Erisalah tersebut untuk menunjukkan kepada mereka yang salah paham terhadap Tasawuf, semata karena kebodohannya terhadap hakikat Tasawuf itu sendiri. Menurutnya Tasawuf merupakan bentuk amaliyah, ruh, rasa dan pekerti dalam Islam itu sendiri. Ruhnya adalah friman Allah swt.:

“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglkah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.,” (Q.s. Asy-Syams: 7-8)

”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri dan dia berdzikir nama Tuhannya lalu dia shalat.” (Q.s. Al-A’laa: 14-15)

“ Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang alpa.” (Q.s. Al-A’raaf: 205)

“Dan bertqawalah kepada Allah; dan Allah mengajarimu (memberi ilmu); dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Q.s. Al-Baqarah : 282)

Sabda Nabi saw:

“Ihsan adalah hendaknya negkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu” (H.r. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)

Tasawuf pada prinsipnya bukanlahg tambahan terhadap Al-Qur’an dan hadits, justru Tasawuf adalah impklementasi dari sebuah kerangka agung Islam.

Secara lebih rinci, Al-Qusyairy meyebutkan beberapa definisi dari para Sufi besar:

Muhammad al-Jurairy:
“Tasawuf berarti memasuki setiap akhlak yang mulia dan keluar dari setiap akhlak yang tercela.”

Al-Junaid al-Baghdady:
“Tasawuf artinya Allah mematikan dirimu dari dirimu, dan menghidupkan dirimu bersama denganNya.”

“Tasawuf adalah engkau berada semata-mata bersama Allah swt. Tanpa keterikatan dengan apa pun.”

“Tasawuf adalah perang tanpa kompromi.”

“Tasawuf adalah anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka.”

“Tasawuf adalah dzikir bersama, ekstase yang diserta sama’, dan tindakan yang didasari Sunnah Nabi.”

“Kaum Sufi seperti bumi, yang diinjak oleh orang saleh maupun pendosa; juga seperti mendung, yang memayungi segala yang ada; seperti air hujan, mengairi segala sesuatu.”

“ Jika engkau meliuhat Sufi menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriyahnya, maka ketahuilah bahwa wujud batinnya rusak.”

Al-Husain bin Manshur al-Hallaj:
“Sufi adalah kesendirianku dengan Dzat, tak seorang pun menerimanya dan juga tidak menerima siapa pun.”

Abu Hamzah Al-Baghdady:
“Tanda Sufi yang benar adalah dia menjadi miskin setelah kaya, hina setelah mulia, bersembunyi setelah terkenal. Sedang tanda Sufi yang palsu adalah dia menjadi kaya setelah miskin, menjadi obyek penghormatan tertinggi setelah mengalami kehinaan, menjadi masyhur setelah tersem,bunyi.”

Amr bin Utsman Al-Makky:
“Tasawuf adalah si hamba berbuat sesuai dengan apa yang paling baik saat itu.”

Mohammad bin Ali al-Qashshab:
“Tasawuf adalah akhlak mulia, dari orang yang mulia di tengah-tengah kaum yang mulia.”

Samnun:
“Tasawuf berarti engkau tidak memiliki apa pun, tidak pula dimiliki apapun.”

Ruwaim bin Ahmad:
“Tasawuf artinya menyerahkan diri kepada Allah dalam setiap keadaan apa pun yang dikehendakiNya.”

“Tasawuf didasarkan pada tiga sifat: memeluk kemiskinan dan kefakiran, mencapai sifat hakikat dengan memberi, dengan mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan diri sendiri dan meninggalkan sikap kontra, dan memilih.”

Ma’ruf Al-Karkhy:
“Tasawuf artinya, memihak pada hakikat-hakikat dan memutuskan harapan dari semua yang ada pada makhluk”.

Hamdun al-Qashshsar:
“Bersahabatlah dengan para Sufi, karena mereka melihat dengan alasan-alasan untuk mermaafkan perbuatan-perbuatan yang tak baik, dan bagi mereka perbuatan-perbuatan baik pun bukan suatu yang besar, bahklan mereka bukan menganggapmu besar karena mengerjakan kebaikan itu.”

Al-Kharraz:
“Mereka adalah kelompok manusia yang mengalami kelapangan jiwa yang mencampakkan segala milik mereka sampai mereka kehilangan segala-galanya. Mereka diseru oleh rahasia-rahasia yang lebih dekat dio hatinya, ingatlah, menangislah kalian karena kami.”

Sahl bin Abdullah:
“Sufi adalah orang yang memandang darah dan hartanya tumpah secara gratis.”

Ahmad an-Nuury:
“Tanda orang Sufi adalah ia rela manakala manakala tidak punya, dan peduli orang lauin ketika ada.”

Muhammad bin Ali Kattany:
“Tasawuf adalah akhlak yang baik, barangsiapa yang melebihimu dalam akhlak yang baik, berarti ia melebihimu dalam Tasawuf.”

Ahmad bin Muhammad ar-Rudzbary:
“Tasawuf adalah tinggal di pintu Sang Kekasih, sekali pun engklau diusir.”

“Tasawuf adalah Sucinya Taqarrub, setelah kotornya berjauhan denganya.”

Abu Bakr asy-Syibly:
“Tasawuf adalah duduk bersama Allah swt. tanpa hasrat.”
“Sufi terpisah dari manusia, dan bersambung dengan Allah swt. sebagaimana difirmankan Allah swt, kepada Musa, “Dan Aku telagh memilihmu untuk DiriKu” (Thoha: 41) dan memiusahkannya dari yang lain. Kemudian Allah swt. berfirman kepadanya, “Engkau takl akan bisa melihatKu.”

“Para Sufi adalah anak-anak di pangkuan Tuhan Yang Haq.”

“Tasawuf adalah kilat yang menyala, dan Tasawuf terlindung dari memandang makhluk.”

“Sufi disebut Sufi karena adanya sesuatu yang membekas pada jiwa mereka. Jika bukan demikian halnya, niscaya tidak akan ada nama yang dilekatkan pada mereka.”

Al-Jurairy:
“Tasawuf berarti kesadaran atas keadaaan diri sendiri dan berpegang pada adab.”

Al-Muzayyin:
“Tasawuf adalah kepasrahan kepada Al-Haq.”

Askar an-Nakhsyaby:
“Orang Sufi tidaklah dikotori suatu apa pun, tetapi menyucikan segalanya.”

Dzun Nuun Al-Mishry:
“Kaum Sufi adalah mereka yang mengutamakan Allah swt. diatas segala-galanya dan yang diutamakan oleh Allah di atas segala makhluk yang ada.”

Muhammad al-Wasithy:
“Mula-mula para Sufi diberi isyarat, kemudian menjadi gerakan-gerakan, dan sekarang tak ada sesuatu pun yang tinggal selain kesedihan.”

Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusy:
“Aku bertanya kepada Ali al-Hushry, siapakah, yang menurutmu Sufi itu? ” Lalu ia menjaqwab, “Yang tidak di bawa bumi dan tidak dinaungi langit.” Dengan ucapannya menurut saya, ia merujuk kepada keleburan.”

Ahmad ibnul Jalla’:
“Kita tidak mengenal mereka melalui prasyarat ilmiyah, namun kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang miskin, sama sekali rtidak memiliki sarana-sarana duniawy. Mereka bersama Allah swt. tanpa terikat pada suatu tempat tetapi Allah swt, tidak menghalanginya dari mengenal semua tempat. Karenanya diosebut Sufi.”

Abu Ya’qub al-Madzabily:
“Tasawuf adalah keadaan dimana semua atribut kemanusiaan terhapus.”

Abul Hasan as-Sirwany:
“Sufi yang bersama ilham, bukan dengan wirid yang mehyertainya.”

Abu Ali Ad-Daqqaq:
“Yang rtevbaik untuk diucapkan tentang masalah ini adalah, “Inilah jalan yang tidak cocok kecuali bagi kaum yang jiwanya telah digunakan Allah swt, untuk menyapu kotoran binatang.”
“Seandainya sang fakir tak punya apa-apa lagi kecuali hanya ruhnya, dan ruhnya ditawarkannya pada anjing-anjing di pintu ini, niscaya tak seekor pun yang menaruh perhatian padanya.”
Abu Sahl ash-Sha’luki:

“Tasawuf adalah berpaling dari sikap menentang ketetapan Allah.”
Dari seluruh pandangan para Sufi itulah akhirnya Al-Qusayiry menyimpulkan bahwa Sufi dan Tasawuf memiliki terminologi tersendiri, sama sekali tidak berawal dari etimologi, karena standar gramatika Arab untuk akar kata tersebut gagal membuktikannya.
Alhasil, dari seluruh definisi itu, semuanya membuktikan adanya adab hubungan antara hamba dengan Allah swt, dan hubungan antara hamba dengan sesamanya. Dengan kata lain, Tasawuf merupakan wujud cinta seorang hamba kepada Allah dan RasulNya, pengakuan diri akan haknya sebagai hama dan haknya terhadap sesama di dalam amal kehidupan.

Terminologi Tasawuf

Di dalam dunia Tasawuf muncul sejumlah istilah-istilah yang sangat populer, dan menjadi terminologi tersendiri dalam disiplin pengetahuan. Dari istilah-istilah tersebut sebenarnya merupakan sarana untuk memudahkan para pemeluk dunia Sufi untuk memahami lebih dalam. Istilah-istilah dalam dunia Sufi, semuanya didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Karena dibutuhkan sejumlah ensiklopedia Tasawuf untuk memahami sejumlah terminologinya, sebagaimana di bawah ini, yaitu:
Ma’rifatullah, Al-Waqt, Maqam, Haal, Qabdh dan Basth, Haibah dan Uns, Tawajud – Wajd – Wujud, Jam’ dan Farq, Fana’ dan Baqa’, Ghaibah dan Hudhur, Shahw dan Sukr, Dzauq dan Syurb, Mahw dan Itsbat, Sitr dan Tajalli, Muhadharah, Mukasyafah dan Musyahadah, Lawaih, Lawami’ dan Thawali’, Buwadah dan Hujum, Talwin dan Tamkin, Qurb dan Bu’d, Syari’at dan Hakikat, Nafas, Al-Khawathir, Ilmul Yaqin, Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin, Warid, Syahid, Nafsu, Ruh, Sirr, dan yang lainnya.
Kemudian istilah-istilah yang masuk kategori Maqomat (tahapan) dalam Tasawuf, antara lain:

Taubat, Mujahadah, Khalwat, Uzlah, Taqwa, Wara’, Zuhud, Diam, Khauf, Raja’, Huzn, Lapar dan Meninggalkan Syahwat, Khusyu’ dan Tawadhu’, Jihadun Nafs, Dengki, Pergunjingan, Qana’ah, Tawakkal, Syukur, Yakin, Sabar, Muraqabah, Ridha, Ubudiyah, Istiqamah, Ikhlas, Kejujuran, Malu, Kebebasan, Dzikir, Futuwwah, Firasat, Akhlaq, Kedermawaan, Ghirah, Kewalian, Doa, Kefakiran, Tasawuf, Adab, Persahabatn, Tauhid, Keluar dari Dunia, Cinta, Rindu, Mursyid, Sama’, Murid, Murad, Karomah, Mimpi, Thareqat, Hakikat, Salik, Abid, Arif, dan seterusnya.

Seluruh istilah tersebut biasanya menjadi tema-tema dalam kitab-kitab Tasawuf, karena perilaku para Sufi tidak lepas dari substansi dibalik istilah-sitilah itu semua, dan nantinya di balik istilah tersebut selain bermuatan substansi, juga mengandung “rambu-rambu” jalan ruhani itu sendiri.

sumber : Sufi Road (more…)

 

Suksesnya Para Sufi Mei 13, 2009

Filed under: Uncategorized — subhan165 @ 11:25 am

Firman Allah swt :

Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (Q.S. 53 : 39)

Dikisahkan ketika nabi Musa kembali untuk mengajak kaumnya yang kafir agar bertaubat kepada Allah. Maka Raja Firaun marah, maka dikumpulkanlah tukang-tukang sihir dan segala peralatan sihir mereka yang berjumlah tujuh puluh ribu macam benda , berupa tongkat dan tambang, untuk menandingi dan mengalahkan nabi Musa. Lalu mereka melemparkan benda-benda itu dengan kekuatan sihir mereka, maka berubahlah seluruh benda-benda itu menjadi berbagai jenis ular yang amat menakutkan. Sehingga Musa merasa gentar. Lantas Allah mewahyukan kepadanya : Jangan takut, sesungguhnya engkaulah yang paling unggul. Sekarang lemparkanlah tongkatmu, supaya engkau dapat melihat kekuasaan Tuhanmu.

Lalu Musa melemparkan tongkatnya, seketika itu berubah tongkat musa menjadi ular yang sangat besar, dan menelan seluruh ular-ular tukang sihir Raja Fir’aun. Setelah itu ular musa mengangakan mulutnya sambil berjalan menuju tempat tukang-tukang sihir fira’un, maka berlarianlah orang-orang kafir itu saling tindih menindih, sehingga banyak dari mereka yang mati.

Kebanyakan orang terlalu fokus kepada kegagalan mereka. Namun, orang-orang sukses hidup dengan mantra kesuksesan mereka. Didalam bukunya “What get your there Won’t gets you where you want to be”, Marshall Goldsmith menjelaskan bahwa orang-orang sukses mempunyai mantera mental yang terus mengingatkan mereka adalah orang-orang yang sukses dan akan sukses terus.

Dr. Martin Seligman dalam bukunya Learned Optimism juga menjelaskan tentang pandangan dunia yang optimis seputar kebahagiaan, sukses, kegembiraan dan situasi yang menyenangkan.

Beliau memberikan tiga kerangka kebiasaan pembicaraan didalam hati mereka atau yang dia sebuat sebagai “explanatory style” mereka.

1.Mereka melihat segala yang positif seperti kebahagiaan, sukses, kegembiraan dan situasi yang menyenangkan sebagai sesuatu yang permanen, selalu, abadi dan sampai akhir jaman

2.Mereka melihat segala yang positif seperti kebahagiaan, sukses, kegembiraan dan situasi yang menyenangkan sebagai kondisi umum dirinya yang permanent dan sebagai sebuah pembawaan yang sudah ada sejak lahir (apa yang ada dalam dirinya)Mereka melihat segala yang positif seperti kebahagiaan, sukses, kegembiraan dan situasi yang menyenangkan Terjadi kepadanya di setiap tempat (menyebar ke seluruh dunia)

3.Mereka melihat segala yang positif seperti kebahagiaan, sukses, kegembiraan dan situasi yang menyenangkan sebagai sesuatu yang Terjadi di semua tempat (menyebar ke seluruh dunia)

1.Mereka melihat segala yang positif seperti kebahagiaan, sukses, kegembiraan dan situasi yang menyenangkan sebagai sesuatu yang permanen, selalu, abadi dan sampai akhir jaman

Seorang yang optimis ketika melihat sesuatu yang berjalan lancar akan berpikir bahwa itu akan seperti itu selamanya. Mereka melihat sesuatu yang baik secara permanent. Mereka memiliki keyakinan yang kuat bahwa hal yang baik akan terus datang. Ketika promosi terjadi, seorang optimis melihat hal serupa akan datang lagi dimasa-masa depan. Mereka, namun, tidak menginginkannya sekali (atau terobsesi) tentang hal tersebut. Mereka melihatnya sebagai kondisi yang permanent yang artinya akan terjadi lagi di kemudian hari seperti musim-musim dan tahun-tahun yang berganti.

Oleh karenanya, ketika Shinta mengalami kesuksesan pada penjualan asuransinya, dia memandang bahwa kesuksesan itu akan datang lagi terus-menerus di masa datang. Shinta melihat kesuksesan sebagai suatu yang permanen sementara kegagalan hanyalah bersifat sementara. Saya menerapkan kepada anak saya dengan menjelaskan kepadanya, “Mama dan Papa marah hanya sekali-kali, namun, kami selalu sayang kepadamu nak dan untuk selamanya.”

Spiritualis yang optimis melihat bahwa segala sesuatu yang bersumber pada cahaya dan sinar kebaikan bersifat permanent. Mereka percaya bahwa Allah adalah sumber dari segala kebaikan di bumi ini dan di akhirat. Oleh karenanya mereka fokus pada sumber, bukan pada output. Mereka fokus pada Sang Pencipta bukan pada ciptaanNya. Ketika hal yang baik terjadi dalam hidup mereka, mereka mengasihinya dan bahkan bersyukur karenanya. Alasannya adalah mereka tahu bahwa karunia Dia tidak terbatas. Allah berfirman,” Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (Q.S. 2.212).

Jika Tuhan memberikan sesuatu pada hari ini, ketika seseorang bersyukur karenanya, Allah akan memberikan lebih banyak lagi dimasa-masa depan. Selain itu, ketika hal yang baik terjadi, keyakinan mereka bertambah kuat karena mereka melihat dan merasakan karunia Allah menyinari mereka. Dan juga, mereka termasuk orang-orang yang yakin bahwa Allah akan membuat situasi mereka menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Ameen.

2.Mereka melihat segala yang positif seperti kebahagiaan, sukses, kegembiraan dan situasi yang menyenangkan sebagai kondisi umum dirinya yang permanent dan sebagai sebuah pembawaan yang sudah ada sejak lahir (apa yang ada dalam dirinya)

Juanita memang menyukai berbicara di depan umum. Dia mulai mempraktekkannya bahkan ketika dia masih kecil. Ketika dia remaja, dia memulai partisipasinya di pemilihan ketua senat sekolah. Selama presentasinya ke beberapa klub di sekolah, dia cepat memperoleh popularitas ketika dia membicarakan ide yang baru dan menarik tentang kehidupan pelajar yang maju.

Juanita dengan cepatnya yakin bahwa dia terlahir dengan talenta untuk berbicara di depan umum. Dia bahkan mulai untuk merekam pidatonya dan mengirimkan pidato melalui email pada setiap orang yang dia tahu. Ketika pemilihan terakhir, bahkan dengan bakat ketrampilan untuk berbicara di depan umum, ternyata dia kalah. Dia kalah karena dia masih kelas satu di SMUnya dan masih dianggap terlalu muda. Namun, keesokan harinya, dia sudah kembali memberikan pidatonya ke seluruh kampus. Kali ini, dia fokus pada lingkungan, pelayanan umum dan bahkan operasionil. Dia melihat kegagalan untuk memenangkan pemilihan hanya bersifat sementara. Dia berkata pada dirinya,” akan ada pemilihan yang lain dan saya akan memenangkannya di lain waktu.” Dia melihat bakat berbicara di depan umum sebagai sesuatu yang permanent. Dia akan tetap dapat untuk memenangkan di kesempatan yang lain memakai bakatnya yang permanent ini. Bakat ini adalah berkah talenta yang diberikan Allah. Ini akan selalu bersama-nya.

Seorang spiritual yang optimis melihat bahwa apa yang ada dalam diri mereka adalah karena karunia Dia. Allah berfirman dalam AlQuran,”Allah tidak akan mengubah nasib seseorang sampai dia mengubah dirinya. (QS). Ketika sesuatu berjalan dengan lancar, seorang spiritual yang optimis akan merasakan cahaya yang menyinari mereka. Mereka merasa nyaman karena mereka merasa dekat dengan sumber dari Cahaya Illahi, Sang Pencipta, bukan ciptaanNya.

Namun, ketika mereka melihat sesuatu yang baik terjadi pada mereka, dari ciptaanNya, mereka malahan semakin dekat dengan Sang Pencipta. Mereka melihatNya dan karuniaNya secara permanen dan selamanya di dunia dan akhirat. Mereka menyadari nikmat syukur adalah kebenaran yang hakiki dariNya di dunia dan di akhirat.

3.Mereka melihat segala yang positif seperti kebahagiaan, sukses, kegembiraan dan situasi yang menyenangkan sebagai sesuatu yang Terjadi di semua tempat (menyebar ke seluruh dunia)

Ketika Bagio mengetahui bahwa computer programnya bisa berjalan dengan baik di komputer PC di rumahnya, dia cukup yakin bahwa programnya dapat berjalan di mana saja. Dia dengan cepat mulai mengirim program tersebut secara gratis kepada semua kawannya di mana saja untuk mengujinya.

Beberapa kembali dengan kritik tentang kurangnya fitur yang mereka butuhkan. Dalam tempo satu minggu, dia me-reprogram-nya. Dia dengan gembira melengkapi versi berikutnya yang mengakomodasi seluruh input yang dia terima dari mana saja. Sekarang programnya benar-benar siap untuk seluruh dunia, dia berkata padanya. Namun, beberapa minggu kemudian ada lagi input tentang kekurangan ini dan itu. Bagio dengan gembiranya melengkapinya lagi. Dia mengatakan “sekarang ini sudah siap untuk seluruh dunia!” Dia mengatakannya ini terus menerus untuk versi ke 1, 5, 50, dan juga 500. Program dia kemudian dibeli oleh salah satu perusahaan software yang besar. Dia mendapatkan uang yang cukup untuk pensiun dini. Bagio memang seperti Thomas Alpha Edison yang terus melakukan revisi penemuan bola lampu pijarnya dengan versi 1, 5, 50, 500 dan sampai akhirnya yang 1000 kali. Sekarang seluruh dunia bisa membaca buku dan bekerja dimalam hari karena penemuan Mr. Edison tersebut.

Seorang optimis mendunia suksesnya. Ketika mereka melihat bahwa mereka dapat sukses di satu tempat di mana saja di dunia, mereka dengan cepat yakin bahwa dapat membuat sukses secara global. Ketika mereka menemui kesulitan ketika akan mulai menyebarkan ke seluruh dunia, mereka melihatnya hanya sementara saja. Mereka dengan mudahnya kembali bekerja dan mulai untuk membuat konsep perbaikan dengan versi 1, 5, 50 dan seterusnya. Mereka yakin ketika mereka sukses mereka akan sukses lagi dan lagi. Ketika mereka gagal, itu hanya terjadi sementara saja. Mereka kemudian menemukan suatu cara untuk mengubahnya. Dan kemudian mereka membuat kesuksesan yang berulang-ulang.

Spiritual yang optimis melihat kebenaran sebagai sesuatu yang permanent dan merupakan kebenaran dunia dan akhirat. Ketika sesuatu berjalan dengan lancar, mereka melihat kehadiran Allah. Mereka melihat sumber dari segala Kebaikan. Mereka merasakan Kasih SayangNya. Mereka tahu hal ini adalah kekal dan terjadi dimana saja, di dunia, di galaksi, di planet lain dan di akhirat. Mereka bersyukur sesuatu yang berjalan lancar karena nikmat yang diperoleh dari karuniaNya. Hasil akhir dari proses tersebut mereka nikmat dari Allah SWT saja. Ketika mereka dapat memprogram sebuah komputer, mereka tahu bahwa kekuatan yang ada dalam diri yang merupakan karunia Allah yang menggeraknya. Ketika mereka dapat memprogram sebuah Komputer di Indonesia, kekuatan yang sama juga yang ada dalam diri mereka yang akan membawa kesuksesan di Amerika atau di Eropa. Sepanjang mereka hanya mengingat Dia dan menyadari bahwa takdir yang telah dipersiapkan untuknya, dia yakin bahwa dia akan menyebar luaskannya. Ketika sesuatu terjadi kegagalan, mereka melihatnya sebagai cobaan dan penderitaan yang sementara untuk meyakinkan kekuatan dan takdir kebenaran yang ada di mereka. Allah berfirman

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S. 94:6)

 

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.